A. Pendahuluan
Islam adalah agama yang sempurna, Islam adalah agama yang berlandaskan pada al-Qur’an dan Hadits nabi Muhammad saw. Al-Qur’an mencakup seluruh lini kehidupan makhluk, termasuk di dalamnya tentang pendidikan, filsafat dan lain sebagainya.
Setiap konsep yang ada di dalam al-Qur’an tentunya memiliki tujuan yang terkandung di dalamnya. Maka dari itu diperlukan metode-metode sehingga tujuan tersebut dapat dicapai secara efektif dan efisien.
Berangkat dari pemikiran ini, kami pemakalah, insya Allah akan membahas tentang Esensi Metode Dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam.
B. Pengertian Metode
Secara etimologi, metode berasal dari dua kata, yaitu meta yang berarti melalui dan hodos yang berarti jalan atau cara. Dengan demikian, dari sudut pandang ini, maka metode dapat dimaknai sebagai jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan.[1]
Metode adalah cara yang telah teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai suatu maksud.[2] Sebagaimana dikutip oleh M. Rasyidi dari kamus pedagogik bahwa metode ialah cara bekerja yang tetap yang dipikirkan dengan seksama guna mencapai suatu tujuan[3]. Metode dapat diartikan sebagai cara yang dipergunakan guru untuk membelajarkan peserta didik saat berlangsungnya proses pembelajaran.[4]
Jadi, berdasarkan beberapa defenisi di atas dapat disimpulkan bahwa metode adalah cara atau jalan yang telah dirumuskan pendidik dalam rangka pentransferan pengetahuan kepada peserta didik guna mencapai kompetensi tertentu.
Metode, merupakan alat yang dipergunakan untuk mecapai tujuan pendidikan. Alat ini mempunyai dua fungsi ganda, yaitu bersifat polipragmatis dan monopragmatis.[5] Polipragmatis berarti metode mengandung kegunaan yang serba ganda, misalnya suatu metode tertentu pada suatu situasi kondisi tertentu dapat digunakan untuk membangun atau memperbaiki sesuatu. Kegunaannya dapat tergantung pada si pemakai atau pada corak, bentuk dan kemampuan metode sebagai alat. Sebaliknya, monopragmatis apabila metode mengandung satu macam keunggulan untuk satu macam tujuan[6].
Dengan demikian, metode tersebut memiliki posisi penting dalam mencapai tujuan. Metode adalah cara yang paling cepat dan tepat dalam memperoleh tujuan yang diinginkan. Jika metode dapat dikuasai maka akan memudahkan jalan dalam mencapai tujuan dalam lapangan apapun termasuk dalam pendidikan Islam[7].
C. Makna Metode Pendidikan Islami
Dalam sumber asasi ajaran Islam, terdapat beberapa terma yang sering dimaknai sebagai metode, diantaranya thariqah, manhaj, dan washilah.[8]
Di dalam kitab al-Suluk al-insany[9], ada ungkapan “Thuruq al-Ta’allum” kata Thuruq merupakan bentuk jama’ dari kata Thariq. Dan Muhammad Abd al-Qadir Ahmad[10] menyebut nama kitabnya dengan Thuruq Ta’lim al-Tarbiyah al-Islamiyah. Maksud dari ungkapan ini adalah metode-metode pendidikan yang islami.
Berdasarkan objek yang dituju, kata thariqah dihadirkan dalam konteks dimana Allah swt tidak akan menunjuki jalan orang-orang kafir dan yang melakukan kezaliman, kecuali jalan ke neraka Jahannam. Kemudian, berdasar sifat jalan yang ditempuh, kata thariqah dihadirkan dalam konteks sebuah peristiwa dimana sekelompok jin mendengarkan bacaan Alquran. Setelah itu, mereka kembali pada kaumnya dan memberi kabar seraya mengatakan bahwa apa yang telah mereka dengar adalah sesuatu yang bisa memimpin mereka kepada kebenaran atau jalan yang lurus (thariq al-mustaqim)[11].
Dalam arti jalan khusus, kata thariqah dihadirkan dalam kaitannya dengan perintah Allah swt kepada Musa a.s untuk membuat jalan yang kering di laut. Kemudian dalam arti konsekuensi mengikuti suatu jalan, kata thariqah dikaitkan dengan jalan lurus dan balasan kebaikan yang akan diterima oleh siapa saja yang istiqamah dalam mengikutinya. Sedangkan dalam arti instrument, kata thariqah dihadirkan dalam konteks simbolik atau instrumen untuk menggambarkan kekuasaan dan kebesaran nikmat Allah swt kepada manusia[12].
Selain thariqah, dalam nomenklatur Islam juga ditemukan terma washilah yang juga selalu dimaknai sebagai metode. Kata ini selalu hadir dalam makna menyampaikan, baik dalam arti fisik maupun non-fisik. Dalam arti fisik, misalnya sebagaimana terdapat pada Q.S, Hud : 70. Kalimat la tashilu ilaih (لا تصل اليه) dalam ayat ini berkaitan dengan suatu peristiwa dimana Ibrahim a.s menjamu tamunya (para malaikat) dengan hidangan (daging sapi panggang). Namun hidangan itu tidak dijamah oleh para tamunya (tangan mereka tidak menjamahnya)[13].
Dalam arti non-fisik, kata washilah berari menyampaikan secara berturut-turut kalam Allah (Alquran) kepada manusia sehingga mereka mendapatkan pengajaran. Kemudian kata washilah juga berkaitan dengan sajian atau persembahan yang diperuntukkan oleh orang-orang kafir untuk Allah swt dan berhala-berhala mereka. Maka Allah swt memaklumkan bahwa apa yang dipersembahkan oleh orang-orang kafir tersebut sama sekali tidak akan sampai kepada Allah swt (fala yashilu ila Allah)[14].
Dan di antara ungkapan yang menyebutkan metode itu dengan bahasa Manhaj adalah Muhammad Quthb,[15] ia memberi nama kitabnya dengan Manhaj al-tarbiyah al-Islamiyah, yang mana kitab ini hanyalah membahas tentang metode-metode pendidikan.
D. Dasar dan Penggunaan Metode
Menurut Al Rasyidin bahwa dalam pemilihan dan penerapan metode harus mempertimbangkan beberapa hal sebagai berikut:
1. Tujuan dan target pembelajaran yang ingin dicapai,
2. Ruang lingkup dan urutan materi/bahan pembelajaran,
3. Pertumbuhan dan perkembangan fisik dan psikologis peserta didik,
4. Kebutuhan dan karakteristik peserta didik,
5. Motivasi/minat peserta didik,
6. Kemampuan peserta didik dalam melakukan sesuatu,
7. Ukuran kelas dan suasana lingkungan pembelajaran,
8. Alokasi waktu atau jam pembelajaran yang tersedia,
9. Kemampuan pendidik, dan
10. Sarana dan fasilitas pembelajaran yang tersedia[16].
Al-Syaibany dalam bukunya Falsafah al-tarbiyah al-Islamiyah Mengemukakan dua dasar metode pendidikan islami, yaitu:
1. Dasar agama, yaitu berdasarkan al-Qur’an dan al-Hadits serta apa yang diamalkan orang saleh
2. Dasar-dasar bio-psikologis, dibagi kepada tiga macam, yaitu:
a. Dasar biologis, yaitu memperhitungkan aspek jasmani peserta didik dan berusaha memenuhi kebutuhan jasmani tersebut.
b. Dasar psikologis, hal ini berkaitan dengan sejumlah kekuatan psikologis, di antaranya adalah motivasi, emosi, minat, dan sikap peserta didik.
c. Dasar sosial, di mana yang diajarkan harus sesuai dengan nilai-nilai yang yang baik yang berlaku di masyarakat pesergta didik.
Hasan Langgulung, sebagaimana dikutip oleh Zainuddin dan Mohd Nasir, berpendapat bahwa penggunaan metode didasarkan atas tiga aspek pokok yaitu:
1. Sifat-sifat dan kepentingan yang berkenaan dengan tujuan utama pendidikan Islam yaitu pembinaan manusia mukmin yang mengaku hamba Allah,
2. Berkenaan dengan metode-metode yang betul-betul berlaku yang disebutkan dalam Alquran atau disimpulkan dari padanya,
3. Membicarakan tentang pergerakan (motivation) dan disiplin dalam istilah Alquran disebut ganjaran (tsawab) dan hukuman (iqab)[17].
E. Karakteristik dan Prinsip-Prinsip Metode
Di antara karakteristik metode pendidikan Islam adalah:
1. Keseluruhan penerapan metode pendidikan Islam, mulai dari pembentukannya, pengunaannya sampai pada pengembangannya, tetap didasarkan pada nilai-nilai asasi Islam sebagai ajaran yang universal,
2. Proses pembentukan, penerapan dan pengembangannya tetap tidak dapat dipisahkan dengan konsep-konsep al-akhlak al-karimah sebagai tujuan tertinggi dari pendidikan Islam,
3. Metode pendidikan Islam bersifat luwes dan fleksibel dalam artian senantiasa membuka diri dan dapat menerima perubahan sesuai dengan situasi dan kondisi yang melingkupi proses kependidikan Islam tersebut, baik dari segi peserta didik, materi pelajaran dan lain-lain,
4. Metode pendidikan Islam berusaha bersungguh-sungguh untuk menyeimbangkan antara teori dan praktek,
5. Metode pendidikan Islam dan penerapannya menekankan peserta didik untuk berkreasi dan mengambil prakarsa dalam batas-batas kesopanan dan al-akhlak al-karimah,
6. Dari segi pendidik, metode pendidikan Islam lebih menekankan nilai-nilai keteladanan serta kebebasan pendidik dalam menggunakan serta mengkombinasikan berbagai metode pendidikan yang ada dalam mencapai tujuan pengajarannya,
7. Metode pendidikan Islam dalam penerapannya berupaya menciptakan situasi dan kondisi yang memungkinkan bagi terciptanya interaksi edukatif yang kondusif,
8. Metode pendidikan Islam merupakan usaha untuk memudahkan proses pengajaran dalam mencapai tujuannya secara efektif dan efisien[18].
F. Prinsip-Prinsip umum Terpenting yang menjadi dasar metode mengajar dalam pendidikan islam
Menurut al-Syaibani[19] ada tujuh Prinsip umum yang menjadi dasar metode mengajar dalam pendidikan islam, yaitu:
1. Pentingnya menjaga motivasi pelajar dan kebutuhan, minat, dan keinginannya pada proses belajar.
2. Pentingnya menjaga tujuan pelajar dan menolongnya mengembangkan tujuan tersebut
3. Kemestian memelihara tahap kematangan yang dicapai oleh pelajar dan derajat kesediaannya untuk belajar.
4. Perlunya menjaga perbedaan-perbedaan perseorangan di antara [pelajar-pelajar.
5. Pendidik seharusnya mempersiapkan peluang partisipasi yang praktikal.
6. Pentingnya memperhatikan kepahaman, mengetahui hubungan, kepaduan dan kelanjutan pengalaman, sifat baru, keaslian dan kebebasan berfikir.
7. Pentingnya membuat proses pendidikan itu suatu proses yang menggembirakan dan menciptakan kesan yang baik pada diri pelajar.
Dalam metode pengajaran para pendidik harus berpegang kepada empat prinsip yang saling berkaitan. Empat prinsip itu adalah:[20]
1. Prinsip partisipasi
2. Prinsip penaksiran (diagnose) maka dan penjelasan yang konkrit terhadap pengetahuan dan fakta-fakta yang dipelajari
3. Prinsip pengulangan yang terpimpin
4. Prinsip tauladan yang baik dan mengamalkan sendiri apa yang diajarkannya
Masih berhubungan dengan prinsip-prinsip metode mengajar dalam pendidikan Islam. Prinsip-prinsip dalam metode mengajar merupakan hal penting, oleh karena itu agar efektif, maka setiap metode harus memiliki prinsip-prinsip sebagaimana dikutip oleh Zainuddin dari buku Filsafat pendidikan Islam yang ditulis oleh Ramayulis, sebagai berikut:
1. Metode tersebut harus memanfaatkan teori kegiatan mandiri. Belajar merupakan akibat dari kegiatan peserta didik. Pada dasarnya belajar itu berwujud melalui pengalaman, memberi reaksi, dan melakukan. Menurut prinsi ini, seseorang belajar melalui reaksi atau kegiatan mandiri yang merupakan landasan dari semua pembelajaran. Pengajaran harus dilaksanakan melalui pembelajaran tangan pertama. Dengan kata lain, peserta didik banyak memperoleh pengalaman belajar,
2. Metode tersebut harus memanfaatkan hukum pembelajaran. Kegiatan metode dalam pembelajaran berjalan dengan cara tertib dan efisien sesuai dengan hukum-hukum dasar yang mengatur pengoperasiannya. Hukum-hukum dasar yang menyangkut kesiapan, latihan dan akibat, harus dipertimbangkan dengan baik dalam segala jenis pembelajaran. Pembelajaran yang baik memberi kesempatan terbentuknya motivasi, latihan, peninjauan kembali, penelitian dan evaluasi,
3. Metode tersebut harus berawal dari apa yang sudah diketahui peserta didik. Memanfaatkan masa lampau peserta didik yang mengandung unsur-unsur yang sama dengan unsur-unsur materi pembelajaran yang dipelajari akan melancarkan pembelajaran. Hal tersebut dapat dicapai dengan baik melalui korelasi dan perbandingan. Pembelajaran akan dipermudah apabila memulainya dari apa yang sudah diketahui peserta didik,
4. Metode tersebut harus didasarkan atas teori dan praktek yang terpadu dengan baik, bertujuan menyatukan kegiatan pembelajaran,
5. Metode tersebut harus memperhatikan perbedaan individual dan menggunakan prosedur-prosedur yang sesuai dengan ciri-ciri pribadi seperti kebutuhan, minat serta kematangan mental dan fisik,
6. Metode harus merangsang kemampuan berpikir dan nalar peserta didik. Prosedurnya harus memberikan peluang bagi kegiatan berpikir dan kegiatan pengorganisasian yang seksama. Prinsip kegiatan mandiri sangat penting dalam kegiatan mengajar peserta didik untuk bernalar,
7. Metode tersebut harus disesuaikan dengan kemajuan peserta didik dalam hal keterampilan, kebiasaan, pengetahuan, gagasan, dan sikap peserta didik, karena semua ini merupakan dasar dalam psikologi perkembangan,
8. Metode tersebut harus menyediakan bagi peserta pengalaman-pengalaman belajar melalui kegiatan belajar yang banyak dan bervariasi untuk memastikan pemahaman,
9. Metode tersebut harus m enantang dan memotivasi peserta didik ke arah kegiatan-kegiatan yang menyangkut proses differensiasi dan integrasi. Proses penyatuan pengalaman sangat membantu dalam terbentuknya tingkah laku terpadu. Ini paling banyak dicapai melalui penggunaan metode pengajaran terpadu,
10. Metode tersebut harus memberi peluang bagi peserta didik untuk bertanya dan menjawab pertanyaan, dan member peluang pada guru untuk menemukan kekurangan-kekurangan agar dapat dilakukan perbaikan dan pengayaan (remedial dan anrichement),
11. Kelebihan suatu metode dapat menyempurnakan kekurangan metode lain,
12. Suatu metode dapat dipergunakan untuk berbagai jenis materi atau mata pelajaran memerlukan banyak metode,
13. Metode pendidikan Islam digunakan dengan prinsip fleksibel dan dinamis. Sebab dengan kelenturan dan kedinamisan metode tersebut, pemakaian metode tidak hanya menonton dan tidak dengan satu macam metode saja. Seorang peserta didik mampu memilih salah satu dari berbagai alternatif yang ditawarkan oleh para pakar yang dianggap cocok dan pas dengan materi, multi kondisi peserta didik, sarana dan prasarana, situasi dan kondisi lingkungan, serta suasana pada waktu itu[21].
G. Macam-Macam Metode Pendidikan Islam
Setidaknya, Ada beberapa metode pendidikan Islam, antara lain:[22]
a. Metode Kisah, yaitu suatu cara mengajar dimana guru member materi pembelajaran melalui kisah atau cerita . Prinsip dasar metode ini di antaranya diambil dari Q. S. al-Qhashas/28: 76 dan Q.S. Hud/11:20.
b. Metode dialog (hiwar), yaitu suatu cara mengajar dimana guru menyampaikan materi pembelajaran dengan mendengarkan cerita. Metode dialog (hiwar) mempunyai dampak yang dalam bagi pembicara dan juga bagi pendengarpembicaraan itu.
c. Metode Amtsal, yaitu suatu cara mengajar dimana guru menyampaikan materi pembelajaran dengan membuat /melalui contoh atau perumpamaan. Prinsip dasar metode ini di antaranya diambil dalam Q.S. al-Baqarah/2: 17 dan 26
d. Metode keteladanan, yaiti suatu cara mengajar dimana guru menyampaikan materi pembelajaran dengan memperlihatkan ketauladanan. Prinsip dasar metode ini di antaranya diambil dalamQ.S. al-Ahzab/33:21
e. Metode Pembiasaan, yaitu suatu cara mengajar dimana guru menyampaikan materi pembelajaran dengan menerapkan pembiasaan. Prinsip dasar metode ini di antaranya diambil dalam Q.S. al-Nur/24:27 dan al-Muzammil/73: 8.
f. Metode Ibrah dan Mau’izah, yaitu suatu cara mengajar di mana guru menyampaikan materi pembalajaran dengan mengobservasi, membandingkan, menganalogikan, dan memberikan keputusan yang rasional, sehingga sampai pada suatu kondisi yang dapat member dorongan. Q.S. yusuf/12: 111
g. Metode Targib dan tarhib, yaitu cara mengajar di mana guru memberikan materi pembelajaran dengan menggunakan ganjaran terhadab kebaikan dan hukuman terhadap keburukan agar peserta didik melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan. Q.S. al-Bayyinah/98: 7-8
Filsafat Islam dalam memecahkan problema pendidikan Islam (Problema pendidikan yang dihadapi umat Islam) dapat menggunakan metode-metode antara lain:[23]
1. Metode Spekulatif dan kontemplatif. Dalam sistem filsafat Islam disebut tafakkur.
2. Pendekatan normative, dalam pendekatan filsafat Islam disebut pendekatan Syar’iyah
3. Analisa konsep, Dalam sistem filsafat Islam, menafsirkan dan juga menta’wilkan ayat-ayat al-Qur’an merupakan praktek kongkret dari pendekatan analisa konsep atau analisa bahasa.
4. Pendekatan Historis, Peristiwa sejarah berguna untuk memberikan petunjuk dalam membina masa depan.
5. Pendekatan Ilmiah terhadap masalah aktual.
6. Dalam sistem filsafat Islam
Menurut al-Nahlawi[24] ada tujuh metode dalam pendidikan Islam, yaitu:
1. Metode hiwar al-Qur’ani dan al-Nabawi
2. Metode kisah Qur’ani dan nabawi
3. Metode al-Amtsal al-Qur’ani dan al-Nabawi
4. Metode al-qudwah
5. Metode pembiasaan
6. Metode nasehat
7. Metode al-Targhib dan al-Tarhib
Menurut al-Syaibany,[25] dalam pendidikan Islam terdapat lima metode, Yaitu:
1. Metode pengambilan kesimpulan atau induktif
2. Metode perbandingan
3. Metode kuliah
4. Metode dialog dan perbincangan
5. Metode lingkaran (halaqah), riwayat, mendengar & membaca, dikte dan hafalan, pemahaman dan lawatan.
a. Metode lingkaran (halaqah), pelajar-pelajar mengelilingi gurunya dalam setengah bulatan untuk mendengarkan syarahannya
b. Metode riwayat, Metode ini lebih dikenal dalam bidang kajian ilmu hadits.
c. Metode mendengar, sebagaimana terdapat dalam periwayatan hadits, para sahabat sering mendengar apa yang disampaikan oleh rasul, sehingga di dalam hadits sering dijumpai lafal sami’tu.
d. Metode Imla’, dalam metode ini guru mengatur setiap kata-kata yang diucapkannya sedang murid-murid mencatat setiap kata-kata yang didengarnya.
e. Metode hafalan, al-Zarnuji salah satu ulama yang mengusulkan mengulang-ulang hafalan dalam rangka menguatkan ingatan.
f. Metode pemahaman, sesungguhnya metode pengajaran dalam pendidikan islam menaruh perhatian kepada pemahaman matapelajaran sebagaimana ia menaruh perhatian kepada hafalan dan tidak melalaikan kefahaman, renungan, dan pemikiran sama sekali.
g. Metode lawatan untuk menuntut ilmu.
H. Kesimpulan
Kami sebagai pemakalah menyimpulkan bahwa masalah pendidikan adalah masalah manusia, yang menurut ajaran Islam adalah merupakan hamba Allah dan sekaligus menjadi khalifah Allah dan memiliki potensi-potensi manusiawi, justru itu metode yang efektif dan efesien tentunya tergantung pada sifat , bentuk, dan ciri khusus problema yang dihadapi, maka pendekatan filsafat pendidikan islam, haruslah pendekatan yang melibatkan seluruh aspek dan potensi manusiawi.
Justru itu, menurut kami bahwa esensi metode dalam perspektif filsafat pendidikan Islam adalah cara yang digunakan agar tujuan-tujuan pendidikan Islam dapat dicapai secara efektif dan efisien.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Muhammad Abd al-Qadir, Thuruq Ta’lim al-Tarbiyah al-Islamiyah, (al-Qahirah: maktabah al-Nahdhah al-Mishriyah, 1981)
Al Rasyidin, Falsafah Pendidikan Islami, ((Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2008)
Asari, Hasan, Hadis-Hadis Pendidikan sebuah penelusuran akar-akar Islam, (bandung: Citapustaka Media perintis, 2008)
Al-Nahlawi, Abd al-Rahman, Ushul al-tarbiyah al-Islamiyah wa asalibiha fi al-Bait wa al-Madrasah wa al-Mujtama’, ( Dar al-fikr, tt)
Quthb, Muhammad, Manhaj al-tarbiyah al-Islamiyah, (al-Qahirah: Dar al-Qalam, tt)
Rasyidi, M, M. Arifuddin, Zakiah Daradjat, Islam untuk disiplin ilmu Filsafat, (Jakarta, 1984)
Al-Syaibany, Omar Mohammad al-Toumy, Falsafah al-Tarbiyah al-islamiyah, Penterjemah: Hasan Langgulung, Falsafah pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, tt)
‘Uwaidhah, Kamil Muhammad Muhammad, al-Syuluk al-Insany, Beirut: Dar al-kutub al-‘Ilmiyah, 1996)
Wojowasto, Kamus Bahasa Indonesia, (Cv. Pengarang)
Zainuddin dan Mohd. Nasir, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2010)
Zuhairini, dkk, filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), cet. 3
[1] Al Rasyidin, Falsafah Pendidikan Islami, (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2008), h. 174.
[2] S. Wojowasito, kamus bahasa Indonesia, ( Malang: Pengarang, 1999), h. 248
[3] M. Rasyidi, et all, Islam untuk disiplin ilmu Filsafat, (Jakarta, 1984), h. 14.
[4] Zainuddin dan Mohd. Nasir, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2010), h.
[5] Hasan Asari, Hadis-Hadis Pendidikan sebuah penelusuran akar-akar Islam, (bandung: Citapustaka Media perintis, 2008),67
[6] Zainuddin dan Mohd. Nasir, Filsafat Pendidikan Islam, h. 132.
[7] Zainuddin dan Mohd. Nasir, Filsafat Pendidikan Islam, h. 132.
[8] Al Rasyidin, Falsafah Pendidikan Islami, h. 174.
[9] Kamil Muhammad Muhammad ‘uwaidhah, al-Syuluk al-Insany, Beirut: Dar al-kutub al-‘Ilmiyah, 1996), h. 67
[10] Muhammad Abd al-Qadir Ahmad, Thuruq Ta’lim al-Tarbiyah al-Islamiyah, (al-Qahirah: maktabah al-Nahdhah al-Mishriyah, 1981)
[11] Al Rasyidin, Falsafah Pendidikan Islami, h. 175.
[12] Al Rasyidin, Falsafah Pendidikan Islami, h. 175.
[13] Al Rasyidin, Falsafah Pendidikan Islami, h. 175.
[14] Al Rasyidin, Falsafah Pendidikan Islami, h. 175.
[15] Muhammad Quthb, Manhaj al-tarbiyah al-Islamiyah, (al-Qahirah: Dar al-Qalam, tt)
[16] Al Rasyidin, Falsafah Pendidikan Islami, h. 179.
[17] Zainuddin dan Mohd. Nasir, Filsafat Pendidikan Islam, h. 133.
[18] Zainuddin dan Mohd. Nasir, Filsafat Pendidikan Islam, h. 134.
[19] Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibany, Falsafah al-Tarbiyah al-islamiyah, Penterjemah: Hasan Langgulung, Falsafah pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, tt), h. 591
[20] Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibany, Falsafah al-Tarbiyah …., h. 604
[21] Zainuddin dan Mohd. Nasir, Filsafat Pendidikan Islam, h. 135-136.
[22] Zainuddin dan Mohd. Nasir, Filsafat Pendidikan Islam, h. 137-138
[23] Zuhairini, dkk, filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), cet. 3, h. 131
[24] Abd al-Rahman al-Nahlawi, Ushul al-tarbiyah al-Islamiyah wa asalibiha fi al-Bait wa al-Madrasah wa al-Mujtama’, ( Dar al-fikr, tt)
[25] Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibany, Falsafah al-Tarbiyah al-islamiyah, … h. 560
Tidak ada komentar:
Posting Komentar